Halaman 
 dari 2465
Record 23171 sampai 23180 dari 24649
 
nomor pohon
nama jenis
nama daerah
suku family
native
tahun tanam
no petak
Lokus
Deskripsi
55 Pinus merkusii Jungh - Pinaceae - 1974 5 Cikole

Tusam atau pinus adalah sebutan bagi sekelompok tumbuhan yang semuanya tergabung dalam marga Pinus. Di Indonesia penyebutan tusam atau pinus biasanya ditujukan pada tusam Sumatera (Pinus merkusii Jungh. et deVries).

Tusam kebanyakan bersifat berumah satu (monoecious), yaitu dalam satu tumbuhan terdapat organ jantan dan betina namun terpisah, meskipun beberapa spesies bersifat setengah berumah dua (sub-dioecious).

56 Pinus merkusii Jungh - Pinaceae - 1974 5 Cikole

Tusam atau pinus adalah sebutan bagi sekelompok tumbuhan yang semuanya tergabung dalam marga Pinus. Di Indonesia penyebutan tusam atau pinus biasanya ditujukan pada tusam Sumatera (Pinus merkusii Jungh. et deVries).

Tusam kebanyakan bersifat berumah satu (monoecious), yaitu dalam satu tumbuhan terdapat organ jantan dan betina namun terpisah, meskipun beberapa spesies bersifat setengah berumah dua (sub-dioecious).

57 Pinus merkusii Jungh - Pinaceae - 1974 5 Cikole

Tusam atau pinus adalah sebutan bagi sekelompok tumbuhan yang semuanya tergabung dalam marga Pinus. Di Indonesia penyebutan tusam atau pinus biasanya ditujukan pada tusam Sumatera (Pinus merkusii Jungh. et deVries).

Tusam kebanyakan bersifat berumah satu (monoecious), yaitu dalam satu tumbuhan terdapat organ jantan dan betina namun terpisah, meskipun beberapa spesies bersifat setengah berumah dua (sub-dioecious).

58 Pinus merkusii Jungh - Pinaceae - 1974 5 Cikole

Tusam atau pinus adalah sebutan bagi sekelompok tumbuhan yang semuanya tergabung dalam marga Pinus. Di Indonesia penyebutan tusam atau pinus biasanya ditujukan pada tusam Sumatera (Pinus merkusii Jungh. et deVries).

Tusam kebanyakan bersifat berumah satu (monoecious), yaitu dalam satu tumbuhan terdapat organ jantan dan betina namun terpisah, meskipun beberapa spesies bersifat setengah berumah dua (sub-dioecious).

59 Pinus merkusii Jungh - Pinaceae - 1974 5 Cikole

Tusam atau pinus adalah sebutan bagi sekelompok tumbuhan yang semuanya tergabung dalam marga Pinus. Di Indonesia penyebutan tusam atau pinus biasanya ditujukan pada tusam Sumatera (Pinus merkusii Jungh. et deVries).

Tusam kebanyakan bersifat berumah satu (monoecious), yaitu dalam satu tumbuhan terdapat organ jantan dan betina namun terpisah, meskipun beberapa spesies bersifat setengah berumah dua (sub-dioecious).

A1/01

Calophyllum inophyllum  L.

Nyamplung Guttiferae - - A Manggala Wanabakti

Pohon medium, tinggi mencapai hingga 35 m, tanpa banir. Daun menjorong, membundar telur, membundar telur sungsang atau lonjong, membundar sampai membaji pada pangkal, membundar, bertakik atau agak meruncing pada ujung. Perbungaan di ketiak, umumnya tidak bercabang tetapi kadang-kadang dengan cabang, setiap cabang 3 bunga, perbungaan terdiri atas 5-15(-30) bunga. Buah membulat sampai membulat telur sungsang, panjang 25-50 mm, dengan lapisan bagian luarnya cukup tipis dan kompak, warna keabu-abuan-hijau.

 

Pohon nyamplung tumbuh di Asia Tenggara, India, Afrika, Australia Utara, Queensland Utara, dan lain-lain (Dahlan dan Gusmailina dalam Rostiwati dkk, 2007). Di Indonesia Pohon nyamplung terbesar di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan,  Lampung, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku, NTT, dan Papua  (Martawijaya et al dalam Rostiwati dkk, 2007)

Banyak terdapat di hutan sekunder,  tumbuh pada tanah berawa dekat pantai sampai tanah kering dan Regosol di bukut-bukit dengan ketinggian tempat 100-150 m diatas permukaan laut; topografi datar sampai bergelombang, dengan tipe curah hujan A dan B (Martawijaya et al dalam Rostiwati dkk, 2007) rata-rata curah hujan 2.959 mm. Jenis tanah podsolik merah kuning dengan bahan induk batuan sedimen tersier, asam kresik dan batuan basah.

Kayu memiliki B.J. 0,69, kelas awet II-III, dipergunakan untuk perkapalan, balok, tiang, papan lantai, papan bangunan,bantalan. Sebagian besar komponen dari pohon nyamplung dapat menghasilkan minyak,  tetapi paling banyak kandungannya pada bagian buah dan getah pohon. Minyak nyamplung yang berwarna hijau gelap atau kuning. Minyak nyamplung mentah mengandung komponen yang aktif mempercepat kesembuhan luka atau pertumbuhan kulit (cicatrization).

A1/02

Michelia alba DC.

Cempaka putih Magnoliaceae - - A Manggala Wanabakti

Pohon sedang, tinggi mencapai 30 m, diameter batang 84 cm. Ranting berbulu halus warna keabu-abuan. Daun tunggal, kadang-kadang bercuping, berbulu halus, bentuk bulat telur memanjang, berukuran 15 – 35 cm x 25,5 – 11 cm, tersusun spiral atau berseling, ujung daun luncip panjang 0,7 – 30 mm, pangkal daun bentuk tirus, tulang daun sekunder berjumlah 12 – 18 pasang, tulang daun tersier bentuk jala dan jelas pada ke dua permukaan daun, daun penumpu menyelubungi kuncup daun. Tangkai daun panjangnya 15 – 50 cm, tidak terdapat bekas daun penumpu. Bunganya banyak, warna putih, tepal (perhiasan bunga) berjumlah 12, panjang 30 – 55 mm, benangsari panjangnya 10 mm dan dipisahkan dalam suatu ruangan. Karpel (daun buah) berjumlah 10.

Di ketemukan di Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kebumen dengan memiliki pola persebaran cenderung  di sepanjang tepi jalan, pekuburan, pekarangan dan ladang-ladang. Di wilayah hutan BKPH Baharo, RPH Banjarwaru, KPH Jatirogo, Tuban, Jawa Timur ditemukan pohon kantil (cempaka putih) tumbuh secara liar dan berkelompok (Haryanto, 2010). Di Jawa ditanam sebagai tanaman penghijauan atau pohon peneduh di tepi jalan, tumbuh tersebar pada dataran rendah sampai ketinggian 1200 m di atas permukaan laut.

Kayu berkualitas cukup baik dan sering digunakan untuk kerajinan yaitu bedug; Kulit kayunya untuk obat demam; Akar : untuk mengobati infeksi saluran kemih.   Daun: untuk mengobati bronkhitis dan infeksi saluran kemih.  Minyak atsiri yang dihasilkan dari daun kantil sebagai bahan parfum dan antiseptik. Bunga : untuk mengobati bronkhitis, batuk, demam, keputihan, radang, dan gangguan prostata. Minyak atsiri yang dihasilkan dari bunga kantil sebagai bahan parfum dan antiseptik.

A2/01

Calophyllum inophyllum  L.

Nyamplung Guttiferae - - A Manggala Wanabakti

Pohon medium, tinggi mencapai hingga 35 m, tanpa banir. Daun menjorong, membundar telur, membundar telur sungsang atau lonjong, membundar sampai membaji pada pangkal, membundar, bertakik atau agak meruncing pada ujung. Perbungaan di ketiak, umumnya tidak bercabang tetapi kadang-kadang dengan cabang, setiap cabang 3 bunga, perbungaan terdiri atas 5-15(-30) bunga. Buah membulat sampai membulat telur sungsang, panjang 25-50 mm, dengan lapisan bagian luarnya cukup tipis dan kompak, warna keabu-abuan-hijau.

 

Pohon nyamplung tumbuh di Asia Tenggara, India, Afrika, Australia Utara, Queensland Utara, dan lain-lain (Dahlan dan Gusmailina dalam Rostiwati dkk, 2007). Di Indonesia Pohon nyamplung terbesar di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan,  Lampung, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku, NTT, dan Papua  (Martawijaya et al dalam Rostiwati dkk, 2007)

Banyak terdapat di hutan sekunder,  tumbuh pada tanah berawa dekat pantai sampai tanah kering dan Regosol di bukut-bukit dengan ketinggian tempat 100-150 m diatas permukaan laut; topografi datar sampai bergelombang, dengan tipe curah hujan A dan B (Martawijaya et al dalam Rostiwati dkk, 2007) rata-rata curah hujan 2.959 mm. Jenis tanah podsolik merah kuning dengan bahan induk batuan sedimen tersier, asam kresik dan batuan basah.

Kayu memiliki B.J. 0,69, kelas awet II-III, dipergunakan untuk perkapalan, balok, tiang, papan lantai, papan bangunan,bantalan. Sebagian besar komponen dari pohon nyamplung dapat menghasilkan minyak,  tetapi paling banyak kandungannya pada bagian buah dan getah pohon. Minyak nyamplung yang berwarna hijau gelap atau kuning. Minyak nyamplung mentah mengandung komponen yang aktif mempercepat kesembuhan luka atau pertumbuhan kulit (cicatrization).

A2/02

Eucalyptus deglupta Blume

Leda Myrtaceae - - A Manggala Wanabakti

Pohon besar yang selalu hijau, tinggi dapat mencapai 60 (-75) m. Batang bebas cabang 25 m, berdiameter 100 cm atau lebih, tidak berbanir, terkadang terdapat akar papan setinggi 3 - 4 m, kulit luar batang berwarna coklat muda, halus, mengelupas tidak teratur, kulit dalam berwarna putih kekuningan atau coklat, bagian dalam coklat muda. Kayu gubal putih atau kuning muda, teras coklat. Daun tunggal, tersusun tersebar spiral, tangkai daun 1 cm panjangnya. Bentuk daun bulat panjang, pangkal agak lancip – membulat dan ujung meruncing. Helaian daun diremas harum baunya, ukuran helaian daun 7.5-15(-20) cm x 5-7.5(-10) cm. Ranting bersegi dan beralur. Perbungaan majemuk yang muncul di tepi atau ujung batang, berbentuk payung yang terdiri dari 3 - 7 bunga. Buah berbentuk bulat telur, panjang 3 - 5 mm dan lebar 3 - 5 mm.

Sulawesi dan Maluku, tumbuh tersebar atau berkelompok dalam hutan primer, dipinggir sungai, dalam tanah yang subur, tanah liat, pasir dan tanah berbatu-batu, pada ketinggian antara 0-600 m dpl. (Sulawesi); Irian Jaya (1000 m dpl.); Jawa (0-1000 m dpl.). Tipe iklim adalah A,B, dan C.

Kelas awet IV (V-II); digunakan untuk papan, tiang bangunan rumah dan jembatan, atau perabot rumah tangga (mebel). Selain itu juga untuk pulp, korek api dan bahan pembungkus. Perbanyakan dengan biji yang disemaikan, dipindahkan ke bumbung, kemudian ditanam di lapangan setelah mencapai tinggi 15-20 cm atau pada umur 4-5 bulan. Jarak tanam 3 m x 2 m atau 3 m x 1 mdengan tanaman sela kemlandingan. Tanaman muda perlu naungan.

 

 

A2/03

Spathodea campanulata Beauv

Angsret Bignoniaceae - - A Manggala Wanabakti

Pohon besar, tinggi hingga 25 m;  tajuk  meruncing. Batang berlentisel kecil dan putih warnanya. Daun majemuk tersusun tersebar, panjang daun hingga 50 cm, tangkai daun hingga 6 cm, pada pangkai tangkai daun membengkak/ menebal; anak daun tersusun berhadapan, bentuk elip- bundar telur, warna hijau mengkilap, berukuran  (7-) 11-15 (-17) cm  x 15 x 7,5 cm; tulang daun sekunder 7-8   pada setiap sisi, berbulu, dan menonjol di bagian bawah, ujung anak daun runcing, pangkal anak daun agak asimetris dan tumpul, tangkai anak daun pendek (2-3 mm), berbulu warna kecoklatan. Perbungaan sekitar 40-50 bunga ; bunga besar warna orange. Buah hingga 45 cm panjangnya. Biji kecil bersayap transparan.

Pohon ini tumbuh di lereng terlindung daerah pertanian atau hutan alam basah  dan lembab pada ketinggian 10 - 1200 m, tanah yang kaya dengan sedikit kesuburan.  Selain itu, tumbuh  baik di hutan sekunder,  dataran rendah Papua.

Kulit dan daun digunakan dalam pengobatan tradisional. Minuman yang terbuat dari kulit, daun dan bunga pohon ini untuk mengobati berbagai penyakit. 

This system was developed by Subid DI P3H, 2016